Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari
Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.
Keluarga dan Guru Imam Bukhari
Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.
Kejeniusan Imam Bukhari
Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.
Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.
Karya-karya Imam Bukhari
Karyanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama".
Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."
Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.
Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."
Penelitian Hadits
Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".
Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."
Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.
Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits
Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.
Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.
Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".
Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.
Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.
Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.
Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.
Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.
Terjadinya Fitnah
Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".
Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : "Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.
Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.
Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah." Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."
Wafatnya Imam Bukhari
Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari
http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits
http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=173
http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1
http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm
Jumat, Mei 02, 2008
Sejarah Singkat Imam Bukhari
Diposting oleh
CAHAYA
pada
03.26
1 komentar
Kamis, Agustus 09, 2007
Jelang 62 Tahun Kemerdekaan RI, Kamsidi Samsuddin, komponis nasional yang makin dilupakan
Lima lembar kertas berwarna cokelat dan beberapa bagian sudah hilang karena sobek tersimpan rapi dalam map. Melihat kondisinya, maka dapat dipastikan kertas tersebut telah berumur puluhan tahun. Di kertas tersebut, tertulis rapi partitur dengan not balok, serta huruf latin. Semuanya ditulis dengan tulisan tangan dan tinta basah. Tertulis jelas di atasnya beberapa kode nomor, dan judul di tengah-tengah Indonesia Raja.
”Ini milik ayah saya. Partitur lagu kebangsaaan Indonesia Raya saat akan direkam di piringan hitam di Lokananta (Perusahaan Negara Lokananta yang bertugas memproduksi dan menduplikasi piringan hitam),” ujar Abdullah Kamsidi, saat ditemui Espos di kediamannya, Rabu (8/8).
Abdullah Kamsidi adalah anak kedua dari komponis nasional dari Solo, Kamsidi Samsuddin, yang menjadi pimpinan Radio Orkes Surakarta (ROS) pertama kali di RRI Surakarta. ”Bersama dengan pemusik asal Belanda yaitu Jos Cleber, kemungkinan bapak akan mengerjakan aransemen musik versi piringan hitam lagu Indonesia Raya tersebut. Itu tulisan tangan bapak, dan tertera juga nama arranger-nya adalah Jos Cleber. Dulu kan semua lagu yang di Indonesia kalau mau dibuat piringan hitamnya dikirim ke Lokananta Solo,” tutur Abdullah.
Berbeda dengan polemik soal lagu kebangsaan yang tengah menghangat, dalam partitur tersebut lirik lagu Indonesia Raya sama persis dengan yang digunakan sekarang, dan ditulis dengan menggunakan ejaan lama. Partitur tersebut bertahun 1950-an.
Nama Kamsidi mungkin belum terlalu akrab di telinga. Padahal dalam kiprah bermusiknya, Kamsidi memiliki beberapa karya besar. Komponis asli Kampung Kauman ini kali pertama memimpin ROS bersama Cauman Band. ROS sendiri didirikan atas perintah Kepala Jawatan RRI kala itu, yaitu Maladi. Kamsidi membuat lagu berjudul Mars Bambu Runcing, yang diperdengarkan dalam pembukaan ROS pertama kali. Selain itu, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang diadakan tahun 1948 di Stadion Sriwedari, Kamsidi juga membuat lagu Mars PON. Karya lainnya adalah Mars Defile, Mars Ibu Pertiwi, dan lain sebagainya. Hingga saat ini, ada sekitar 800-an lagu yang diciptakannya maupun yang diaransemen olehnya. Atas prestasinya, Kamsidi pun mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai Komponis Indonesia tahun 1978, yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef.
”Saya bercita-cita ingin membuat museum musik, karena bapak memiliki banyak peninggalan di bidang musik. Saya juga berharap ada perhatian pemerintah terhadap para komponis di Solo. Misalnya dengan mencantumkan namanya sebagai nama jalan,” harap Abdullah. Buah karya Kamsidi inilah yang ikut andil dalam mengobarkan semangat bangsa.
Oleh: Ariyanto
Diposting oleh
CAHAYA
pada
00.01
4
komentar
Kamis, Agustus 02, 2007
Create guest book website [1]
Complite your website with guest book aplication. there are any file to create a guest book with ASP. first time you must make a database with Ms Access to saving your record/data. example guest.mdb, make the field like this:
Field Name Data Type
Id Auto Number
Name Text (75)
Address Text (225)
Work Text (200)
Comment Memo
Confirm Text (1)
Date Date/Time
Answear Text (225)
Saving the table and give name is Guest .
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.11
2
komentar
Label: Computer
[LEGEND] Marco Van Basten
On the 31st of October 1964 Marco Van Basten was born in the Dutch city of Utrecht. As a child the young Van Basten dreamt, not of becoming a professional footballer, but rather a world class gymnast - a dream he would later transfer to the field with some of the most unbelievably agile goals ever seen in the football world.
Marco began his career with a short lived spell at local side Edilwijk before being whisked off to Dutch super club Ajax in Amsterdam.
In 1980 at the Mundialito friendly-league in Milano, Johan Crujff the leader and coach of the team, introduce to Sandro Mazzola, the symbol-man of Inter, Marco Van Basten. Said Crujff: "Look at him, he's the new Crujff". Mazzola looked him with attention and so says now about that event: "Crujff showed us Marco, we understood immediately that we were in front of an amazing player". Marco had 16 years.
He played his first game for Ajax in the Eredivise on the 3rd of April 1982 in front of the Ajax faithful in the De Meer stadium against Nijmegen, fittingly replacing the reigning Dutch football legend Johan Cruyff and even managing to grab a goal in the process.
The following season he scored 9 goals in 20 games but in the 1983 - 84 season he set the Dutch league alightand his consistency was evident immediately scoring an astonishing 28 goals in just 26 games.
By 1986 he had consolidated his position as the most lethal forward in European football, winning the European Golden Boot award with his 37 goal tally. In his time with Ajax Van Basten had filled his personal trophy cabinet with two Dutch Championships, two Dutch Cups and the European Cup Winners' Cup. He played his final game for Ajax (a game he won for Ajax), against Dynamo Dresden, in that European Cup Winners Cup final. He had scored 128 league goals in just 143 games at an unprecedented strike rate and was top scorer in Holland 4 times.
During this time Silvio Berlusconi was busy rebuilding AC Milan after corruption charges levelled at the preceding club president had left Milan relegated twice in three seasons. In 1987 Berlusconi set about his task by investing in world class players - namely Gullit and Van Basten and adding Rijkaard the following year to form an unforgettable Dutch triumvirate. Berlusconi had to choose a new striker to buy.Hhe had 2 choices: Marco Van Basten or Ian Rush. After having seen only 30 seconds of a VHS about Marco, Silvio decided to buy "The Flying Dutchman".
He made his debut for Milan on 13th September 1987 in Pisa and scored from the spot as Milan won 3 - 1. In his first season at Milan however he played just 11 games scoring 3 goals as the Rossoneri won their first Scudetto since 1979. His first season at Milan in 1987 - 1988 was plagued by an ankle injury that would haunt him for the rest of his career.
As a result of his lack of matches for Milan he started the 1988 European Championships in Germany as a substitute - but by the end of the tournament he was being hailed as the greatest player in the World. In the tournament Van Basten destroyed England on his own scoring a sensational hat trick, knocked out the hosts with a late winner and scored one of the most unforgettable goals ever seen with an amazing volley against the Soviet Union in the final. He had made his mark on the international scene but due to the desperate in-fighting and inconsistency that was to dog the Dutch side over the coming years it would be the only honour Marco would win for his country.
Marco returned to Milanello for the start of the 1988 - 89 season full of confidence and that autumn he was named the 1988 European Player of the year. He followed this up by scoring 19 goals in Serie A as well as being an integral part of the Milan team that ripped apart the hapless Romanian side Steaua Bucharest 4 - 0 in the Nou Camp to win the European Champions Cup final with Van Basten scoring two along with his compatriot Gullit who also scored a double. In the 1989 - 90 season Marco repeated his 19 goal haul in Serie A to become Capocannoniere and was once again heavily involved as Milan retained their European crown defeating Portuguese champions Benfica 1 - 0 in Vienna with a Frank Rijkaard goal. The 1990 World Cup finals in Italy were next on Marco's agenda and he went as he went in search of the ultimate prize. The Dutch side however had a tournament to forget before going out to Klinsmann's Germany 1 - 2 in what many describe as the match of the tournament for the right and wrong elements of football.
At the start of the 90 - 91 campaign Milan were attempting to win their third consecutive European crown. Their will to win however was overshadowed by their bad sportsmanship when vice president Galliani ordered the team off the pitch as they were losing when the floodlights failed in the semi-final second leg tie against the French side Marseille. Red Star Belgrade went on to take Milan's crown in a cynical final while Milan themselves received a one year ban from European club football. Van Basten scored 11 goals in Serie A that season but it was surprise side Sampdoria who took the Scudetto.
Without European football to concentrate on in the 1991 - 1992 season Milan took Serie A by storm and reclaimed the Scudetto while managing to remain unbeaten in Serie A for the entire 34 game campaign - a record unlikely ever to be broken - With 'Marco Goalo' scoring 25 goals to earn his second Capocannonere title. it is worth to mention the game vs. Cagliari in Sardinia. The first half was over and Cagliari was leading 1-0. During the half-time break, Van Basten had a discussion with Capello. Noone knows what they have talked about but when returning on the pitch Capello showed to Marco the number "3" by making it with his fingers. Marco scored a hat-trick in 18 minutes and secured Milan the victory.
The European Championships in Sweden saw some great attacking football from the Dutch but they went out to late entrants and eventual winners Denmark in a penalty shootout where Van Basten, after his customary jump, missed from the penalty spot. It was Marco's last international tournament.
In the Autumn of the 1992 - 1993 season Marco was on top of the footballing World. He was leading the Serie A goalsorers charts with 13 goals and included in his extraordinary start to the season came an incredible couple of games in the month of November. In a league game in Naples he scored four goals as Milan demolished Napoli 5 - 1. He followed this up by scoring all four as Milan thrashed Goteborg 4 - 0 in the Champions League which Milan were dominating. Allied to this he was voted European Player of the Year for a record equalling third time and he was also playing his part as Milan smashed all unbeaten records in Serie A, a record which would eventually see them remain unbeaten for 58 matches.
For a joke of the destiny, Marco scored his first and last goal of his Italian experience to the same goalkeeper, Nista. Ferron is the goalkeeper that got more goals by Marco.
His extraordinary start to the season however was destroyed with a recurrence of the ankle injury which had plagued his career.
When in the first months of 1993 Marco was operated for the 4th time at the ankle, the medical staff of Milan AC disagreed with the operation, because they thought that another operation could be extremely dangerous.
He missed the vast majority of the remainder of the season playing only a couple of games before he was thrust back into action in the European Champions League final against Marseille. A tired looking Milan side lost 0 - 1 with Van Basten, who created numerous chances for Massaro and Papin, playing his last game for AC Milan.
18th August 1995, Luigi Berlusconi trophy, Milan-Juventus. In this usual great classic of the summer there is a special event: Marco Van Basten, the greatest european striker of last 20 years, leaves the football. 85.000 people at San Siro satnd-up and clap him as last wave.
Adriano Galliani so said when Marco left football: "The football lose his Leonardo Da Vinci"
In the six years he had played with Milan he had played a major part in catapulting them back to the pinnacle of World football, removing them from the shadow of neighbours Inter and laying down a solid foundation for future success.
He scored an incredible 90 goals in 147 Serie A games. He picked up 3 Scudetto's, 2 European Cups, 2 World Club Cups, 2 European Super Cups. Personally Marco claimed 3 European Footballer of the Year awards, 2 World Player of the Year awards, FIFA World Player of the year and 2 Capocannonere awards as Serie A top marksman. Not to mention that he has a 92.3% percentage rate at penalty kicks.
Van Basten had made a legend of himself before his injury dramatically shortened his brilliant career.
In the end he realised was fighting a futile battle against one opponent he knew he could never get the better off - his own body.These days Marco, his wife Elisabeth (whom he married in 1992) and their 3 children Alexander, Angelica and Rebecca have two homes - one in Elisabeth's home village of Badhoevedorp and another in Monaco. Marco spends a great amount of time practising his golf handicap and is also a keen fan of tennis - hobbies he enjoys a lot more than the pressure cooker atmosphere of management which he says he will never try.
Marco Van Basten carried the torch of legends during his time with AC Milan. A torch passed on to him by Maradona, Cruyff, Pele, Puskas, Di Stefano et al.
He carried it with grace, dignity and a great love for the game. In return the footballing World had taken Marco into their hearts forever.
Marco is UNIQUE because he express alone that philosophy that Dutch football made at the beginning of 70s. The universality of one team is expressed only by one player that hasn't weak points. Marco is able to shoot with both feet, is great with head and he has a play vision of a real director, like Rui Costa or Gianni Rivera.
With Franco Baresi and Gianni Rivera, Marco has been the most loved player of AC Milan, that's because he talked little and communicated more with the actions and the goals on the field rather than with the words.
"Van Basten the divine!" wrote Gianni Brera, one of the greatest Italian football journalists.
Trophies won
- 3 x Dutch title
- 3 x Dutch Cup
- 3 x Dutch League top scorer
- 3 x Italian title
- 2 x European Super Cup
- 2 x European Cup
- 2 x Intercontinental Cup
- 1 x Cup Winners Cup
- 2 x Italian League top scorer
- 1 x World Player of the Year award
- 1 x Golden Boot award
- 3 x European Footballer of the Year award
- 2 x World Soccer Player of the Year award
Diposting oleh
CAHAYA
pada
02.10
2
komentar
The Jersey
by the fans. The man responsible for the look of the AC Milan shirt was Herbert Kilpin, one of the Englishman who established AC Milan. Kilpin inspired himself from the English sides shirts, who most of them had at that time a shirt with stripes and a badge with a cross on a background. That's why the Milan badge represents a red cross on a white background. The twenty years fascist rule imposed Milan to wear a white shirt with two vertical stripes, one black and one red, running down in the center of it. In 1942 the club changed the shirt again, now numbering five vertical red and black stripes.
Kilpin' s original shirt reappeared in two occasions. In 1962 when it was worn with a black collar and in 1978 with a v-neck.
In 1981 Milan was the first team who printed their player names on the back of the shirts. In the same season the club introduced on the shirt a devil image on the right breast. Later on was first introduced a sponsor name on the shirt.
The goalkeeper shirt was usually black, to intimidate the "enemies", but in 1999 a yellow shirt was worn to remember about the winning of the tenth title.
In the centenarial year, 1999, the shirt of Kilpin was re-introduced, with the star on the chest (one star is awarded when the team wins its tenth title and so on) and on each part that covers the arms they stitched a centenarial badge. This shirt was availble only for only one year (16/12/1999 - 16/12/2000).
Diposting oleh
CAHAYA
pada
02.03
0
komentar
Label: AC Milan
The Trophy Room
SERIE A TITLES <<>>
1901, 1906, 1907, 1950, 195, 1956, 1958, 1961, 1967, 1978, 1987, 1991, 1992, 1993, 1995, 1999, 2004
ITALIAN CUP
1967, 1972, 1973, 1977, 2003
CHAMPIONS LEAGUE
1963, 1969, 1989, 1990, 1994, 2003, 2006
CUP WINNERS CUP
1968, 1973
EUROPEAN SUPER CUP
1989, 1990, 1995, 2003
INTERCONTINENTAL CUP
1969, 1989, 1990
LEAGUE SUPER CUP
1989, 1992, 1993, 1994, 2004
COPPA LATINA
1951, 1956
Diposting oleh
CAHAYA
pada
01.50
0
komentar
Label: AC Milan
The Founders
The AC Milan football club was estabilished on the 16th of December 1899, its parents being three Englishman, Kilpin, Allison and Davies. They came to the idea when they were at a pint of beer, and they proposed it to two bussinesmen, Edwards and Nathan, and to another person, Mr. Barnett. Edwards was to become the first club president ever of the new Milan Cricket and Football Club.
The club aimed to play cricket as much as they could and to promote the game of football, not so popular in those times. In the first board of directors was also Pierro Pirelli, one of the future presidents of the club and also one of its most important historical figures. The establishment of the club spread into the city and Milan started to gain more and more supporters.
The new club registered with the IFF (Italian Football Federation) and, to take part in the championship, they needed a pitch for the home matches. The site was found: the place of today's central station, Trotter. There was an open countryside field at that time there.
The opening match was played against another team from Milan named Mediolanum. The game was played on the 11th of March 1900 and Milan started its history with a great 3-0 win. The first team who played for AC Milan was: Hoode, Cignaghi, Torretta, Lees, Kilpin, Valerio, Dubini, Davies, Neville, Allison, Formenti. You can see here that three of them were the club establishers , Kilpin, Allison and Davies. Although the 3-0 win was a good score for their morale, the Devils first official match, who was played on 15 April 1900 against FC Torino, was lost with 3-0.
The first captain in AC Milan's history was Herbert Kilpin, one of the founders and through the club's best players. In the early Milan days you needed to be a member of the club. The fees were 20 lira and 12 lira for the students. The punishment for the players who had forgotten to pay was the interdiction to train. The first title for AC Milan was won in their second year of activity, 1901
Diposting oleh
CAHAYA
pada
01.49
0
komentar
Label: AC Milan
The Story
As most of you know, AC Milan is one of the best clubs in football history and its history is one of the most interesting of all. This history contains two ups and downs, one between the two World Wars and one in the late 70's and early 80's.
The first two decades in AC Milan's history were very good. They won the first title in 1901 against Genoa, one of the leading teams of the championship at that time (the championship was composed of regional leagues and the winner of each league were invited to take place in a playoff, the winners being declared Italian Champions). Two consecutive titles came in 1906 and 1907, the victims being Juve in 1906 and Torino along with Andrea Doria (this team merged later with another team from Genoa to form Sampdoria Genoa) in 1907.
An important negative event took place in 1908, when a part of malcontents from the club formed a club named Internazionale Milano. The first match against Inter has been played on the 18th of October 1908, Milan winning 2-1. Then, the championship was interrupted during the first World War, when a Federal Cup was played, Milan winning it.
In the period between the two World Wars no important events took place, except the forming of Girone Unico (the today's Serie A) in 1929. The best performances in those years were two 3rd places. It is considered one of the two black periods of AC Milan.
The next period in the club history involves three Swedish players (Gunnar Gren, Gunnar Nordahl and Nils Lledholm), forming the GreNoLi trio. The Italian clubs were allowed in that period to sign maximum five foreign players. Nordahl became the best scorer who played for AC Milan ever, scoring and outstanding 210 goals in 257 matches, an average of 0.81 goals per match. The others two were playing as midfielders. With this trio, AC Milan won their next four Scudetto's.
At the end of the 50's three great players joined AC Milan. One of them is Gianni Rivera brought with a high sum of money, 200.000 $, a record at that time, from Alessandria. The other two are the Brazilian striker Jose Altafini and the Uruguayan midfielder Schiaffino.
One of the greatest periods in Milan's history begun in early 60's with the purchase of Gianni Rivera. Rivera would bright in the 1963 edition of the Champions Cup played against Benfica Lisabona, when he made a great match that Milan won 2-1 with two goals of the Brazilian Jose Altafini.
In 1968 AC Milan won the Scudetto and the Cup Winners Cup. Next year AC Milan won their second Champions Cup in history, simply smashing the Dutch side of Ajax Amsterdam, with a great 4-1 win. This is also the year when Gianni Rivera won the European Footballer of the Year award. Until the mid 70's AC Milan became the most succesful Italian team, winning a Cup Winners Cup, being finalists in another Cup Winners Cup and winning three Italian Cups. The bad things were that Milan did not won the title and that Rivera's career came to the end. This was the beginning of the darkest period in the club's history.
We are talking now about the darkest period in AC Milan history, although there were some bright moments, a Italian Cup win in 1977 and a Scudetto in 1979. This is the best part of the worst part. In the latest part of the 1980 season a scandal about betting rised to the surface. There were involved in this two players from Milan and the president Felice Colombo. Due to their involvement, the club has been relegated for the only time in history in Serie B. Also one of the best parts of this period was the discovery of the sweeper Franco Baresi. The adventure took only one year and AC Milan were back in Serie A. They relegated once again, for the last time, and in the second year in Serie B, more succesful than the first one, Milan finished first and promoted in Serie A. This dark period was over when the media billionaire, Silvio Berlusconi, bought the team.
The new president brought some new people in the club. Through them were Roberto Donadoni, the young Paolo Maldini and the three Dutchmen (Marco van Basten, Frank Rijkaard and Ruud Gullit). The new coach was the great midfielder of the 50's, Nils Liedholm. Liedholm's coaching career was not going so good and it was replaced by Ariggo Sacchi. With him at the helm Milan had won the title in 1987. A new era started. Although that was Sacchi's only Scudetto, he won on European and International stage two Champions Cup, two Europeans Super Cups and two Intercontinental Cups. The coach had a conflict with the Dutch superstar Marco van Basten and the 1992 year brought a new coach in AC Milan, Fabio Capello.
He won four Serie A titles in five years with a fantastic 1992 season when Milan hadn't lost any of the matches played in the league. In the Champions League they played the final in 1993, losing against Olimpique Marseille with 1-0. The next year they won the Champions League final with a great 4-0 win against FC Barcelona. The man of the match was one of the most gifted players ever, the Yugoslavian Dejan Savicevic. After those great times Capello went to coach Real Madrid and a series of coaches came: Oscar Washington Tabarez, Sacchi (2nd time), Capello (2nd time) , Zaccheroni (Zac) and Fatih Terim. Zac won the 1999 title with AC Milan with a great run in the last 10 matches, reaching Lazio from behind and taking the lead.
In the 2000 season, Milan finished 3rd, after Lazio and Juventus. AC Milan Ukrainian striker Andriy Shevchenko finished as Serie A top scorer with 26 goals.
Season 2001 was very poor for Milan. Only the 6th position in the league, and this was mainly because of the chain of injuries that destroyed the team. Due to this injuries chain Zac was sacked by Berlusconi in spring and Cesare Maldini along with Tassotti took over until the summer. The greatest achievement of all in this season was the 6-0 victory over city rivals Internazionale in the league.
In summer AC Milan made an outstanding transfers campaign, bringing Contra, Javi Moreno, Pirlo, Rui Costa, Pippo Inzaghi, Donati, Brocchi and Laursen to the San Siro.
With a new coach and great players Milan is hoping for the glory days to return.]
Diposting oleh
CAHAYA
pada
01.45
0
komentar
Making money from the internet
Do you need any money? yes certainly, may be this is most of your answer. Because everyone need money for fulfill their needed. But how to looking for money from the internet or website no much people know that.If you would think a litle bit and surf from the internet, there are so many free money to take easily from the internet. Some of people dislike multi level marketing (MLM) system, it is never mind, because still much way to get hallal money.
You can get money or free dollars by selling product, advertisement program, google adsense, email pays you, refferal program, agloco program or providing product or service.
Joining google adsense program is the easiest way to get free dollars from the internet. First step you make an article blog at blogger.com by english. The second you fill application form and submit to google, after about two days, if your application approved by google you will get reply what must to do.
Third post any article periodically to get much visitor, if any visitor click advertise that placed by google you will get paid by google.
Good luck, rich is your right!
Diposting oleh
CAHAYA
pada
01.37
0
komentar
Rabu, Agustus 01, 2007
Meraih dan Mencipta Peluang Bisnis
KEGIATAN bisnis yang sudah dicoba seringkali gagal, walaupun sudah didanai dengan investasi besar. Salah satu penyebab kegagalan bisnis adalah karena pelaku bisnis membuka jenis usaha yang tidak ada (sedikit) peluang bisnisnya. Padahal permintaan akan produk atau jasa tercipta karena adanya peluang bisnis. Dari permintaan konsumen tersebutlah penjualan atau transaksi terjadi.
Permintaan pasar akan produk atau jasa dapat terjadi diantaranya melalui dua cara yaitu: Pertama, peluang bisnis yang sudah tercipta. Perubahan demografis misalnya pertambahan penduduk dan pertambahan pendapatan akan dapat menciptakan peluang bisnis baru atau tambahan permintaan barang atau jasa. Hal lain yang dapat menciptakan peluang bisnis adalah munculnya perumahan di suatu daerah yang akan memunculkan permintaan pada barang kebutuhan pokok sehari-hari, jasa telepon, angkutan (transportasi) dan pasar. Berdirinya perguruan tinggi atau sekolah akan dapat menciptakan kebutuhan akan jasa foto copy dan penjilidan, kamar kost, toko buku, warung makan, laundry dan alat transportasi. Sedangkan perubahan perilaku masyarakat misalnya akan dapat menciptakan kebutuhan akan jasa kebugaran, dokter keluarga, apotik dengan praktik dokter bersama, butik, salon dan spa, cafe, warung internet, karaoke, dan event organizer.
Kedua, peluang bisnis yang diciptakan. Penciptaan peluang bisnis memerlukan kemampuan (kreativitas), kekuasaan atau wewenang. Kreativitas dapat dilakukan melalui kegiatan mempengaruhi atau edukasi ke calon konsumen. Misalnya melalui TV diciptakan film anak-anak atau remaja yang mengangkat tema lomba mobil tamia, crush gear atau beyblade. Setelah calon konsumen anak-anak atau remaja menyukai acara tersebut maka akan muncullah keinginan untuk memiliki mainan-mainan tersebut. Maka pelaku bisnis dapat menjual produk mobil tamia, crush gear atau beyblade dengan segala kelengkapannya. Penciptaan peluang bisnis melalui edukasi misalnya edukasi tentang pentingnya pendidikan dan bakat anak, maka akan dapat menciptakan kebutuhan akan play group, sanggar pengembangan bakat anak atau taman bacaan anak-anak.
Persaingan dalam bisnis yang banyak permintaannya akan sangat ketat. Bisnis yang laku pasti akan mendorong masuknya pelaku bisnis baru dalam pasar tersebut. Pelaku bisnis lain seringkali hanya menunggu dan kemudian meniru bisnis yang sudah terbukti laku. Mereka tidak mau bersusah payah mencari atau menciptakan peluang bisnis sendiri. Bagi pelaku bisnis pioner yang tipis modalnya akan cukup sulit untuk melawan mereka yang memiliki kekuatan modal, tetapi dengan kreativitas dan ketajaman merasakan dan melihat peluang bisnis baru yang dimilikinya maka ia akan dapat menjaga kelangsungan hidupnya sebagai pelaku bisnis. Penguasaan pasar yang lebih baik (karena masuk pasar terlebih dahulu) akan menjadikan pelaku bisnis pioner memahami lebih baik perilaku konsumen dan lingkungan bisnis di sekitarnya sehingga ia dapat melayani pasar secara baik.
Potensi diri sebagai pelaku bisnis yang memiliki ketajaman naluri bisnis akan dapat memposisikannya untuk terus dapat mengetahui lebih dahulu dibandingkan pesaing akan kondisi pasar atau dalam menciptakan peluang bisnis baru. Pengalaman, tambahan latihan-latihan dan pengetahuan menajamen bisnis diperlukan oleh pelaku bisnis untuk menjaga serta menambah kemampuan dan naluri bisnisnya agar dapat terus ¿membaca¿ perubahan lingkungan, kondisi atau hal lainnya yang akan dapat menjadi signal adanya peluang bisnis. Peluang bisnis baru pasti ada selama perubahan terjadi. Padahal yang tetap terjadi dalam lingkungan masyarakat adalah perubahan itu sendiri, maka optimislah bahwa peluang bisnis pasti ada atau selalu akan dapat diciptakan. Langkah selanjutnya dari pelaku bisnis adalah berupaya keras untuk menjaga dan mengembangkan bisnisnya secara baik melalui penerapan strategi usaha yang tepat.
*) Drs Nur Feriyanto MSi, staf pengajar di Program Magister Manajemen UII Yogyakarta
Diposting oleh
CAHAYA
pada
23.59
0
komentar
Label: Memulai Usaha
Minggu, Juli 29, 2007
Tembang & goyang cucakrawa bernilai jutaan rupiah
Burung cucakrawa belakangan ini memang makin dikenal. Harus diakui, makin tenarnya nama burung itu sedikit banyak dipengaruhi oleh ngehit-nya tembang Cucakrawa yang syairnya cukup menggelitik telinga. Saat ini, anak-anak hingga orang dewasa dengan mudahnya bisa mendendangkan lagu Cucakrawa sehingga jenis burung yang satu itu tidak lagi dianggap langka atau asing, sekalipun banyak yang belum pernah melihatnya secara langsung.
Mungkin, sama dengan lagunya yang bisa menghasilkan uang jutaan rupiah bagi penyanyinya, burung cucakrawa pun ternyata bisa memberi keuntungan bagi pemiliknya. Bahkan, jika dibisniskan, cucakrawa bisa jadi pabrik uang yang tak akan habisnya.Boleh dibilang, bisnis burung cucakrawa sangat prospektif pasar dan keuntungannya, baik dari segi penangkaran maupun jual beli burung berkicaunya.
Diposting oleh
CAHAYA
pada
22.34
2
komentar
Label: Peluang Usaha
12 Ways Leaders Tell Their People They Are Important
Leaders know the old saying "How you act shouts so loudly I can't hear what you're saying" is the truth. They use it to their advantage. Leaders know the greatest sense of accomplishment and importance often comes from non – monetary rewards, and from positive recognition from the person who is the boss. And they know they can do it without "breaking the rules" or incurring big expenses.
Many managers feel constrained by the rules and regulations of their organizations. They feel that their hands are tied when it comes to rewarding their people – that their actions are controlled by others, and there is little of any real value they can do to motivate their people.
Here are 12 Ways leaders let their people know how important they are:
- Leaders truly believe the work performed by their people is important. This may sound pretty basic, but that is an absolutely essential belief. Without it there is simply no way people can be convinced that what they do is important.. How often have your heard – or been guilty of saying – or thinking – "Oh, she's just the receptionist" or, "He's just the janitor" or "They're just trainees" or "They're just a staff weenie?"
- Leaders expect the best from everyone, and settle for nothing less. Nothing makes people feel more important than high expectations for their performance. Leaders make sure their people share in setting the expectations.
- Leaders create goals that are shared and that show the tie in of individual work with the success of the organization.
- Leaders select the best – in every opening they have. Every tool is used to ensure that the best possible decision is made on who is selected. People watch very carefully to see who is picked – they need to be involved in the selection process whenever possible. Leaders know that actions taken in selection communicate how important the open position is. Who is selected is seen as a direct reflection on the quality of the people in the organization.
- Leaders are their people's institutional champion! What's that mean? When their pay is wrong, leaders get it right. When their reviews are scheduled, leaders ensure they are done accurately and on time. When their raises are due, leaders make sure they are handled properly and on time. Leaders jealously guard their relationship as the go to person for their people. Institutional support people can help, but leaders know they are the key contact for their people.
- Leaders are absolutely intolerant of unsafe, disruptive or other negative behaviors. They act on them quickly and decisively, and never let their people see them knowingly ignore a bad situation. Leaders know these situations will not go away, regardless how much "wish'in and hop'in and pray'in" might be done.
- Leaders know that trust and respect are not the same thing as being liked. It is nice to be liked, it is absolutely essential that people trust and respect their leader. As a comedian said: "If you want to be liked, get a dog."
- Leaders cultivate a climate of civility for their people. In their relationships with their people, they make sure their actions reflect a fundamental respect for others.
- Leaders get every one of their people some form of self development activity on a regular basis. It may be a seminar, it may be tuition refund, it may be a book, it may be a CD set, it may be reimbursement for a Webinar or a podcast, it may be a Community College course – it does not have to be expensive and time consuming, but the act of creating added value through the investment of personal effort supported by organizational resources is a powerful way to express importance.
- Leaders respect their people's time – it's their most valuable asset. Leaders start meetings on time, end them on time, keep meeting commitments. They do what they have to do to ensure their people have the use of as much of their work time as possible.
- Leaders keep the rules and policies to an absolute minimum. If there is workable set of cultural and organizational "Way's Of Doing Things" then the basis for treating people with individual regard exists. If they don't exist, leaders set them in their own area of responsibility.
- Leaders celebrate the successes – they create the opportunity for group recognition to happen all over the place – if Safety is an issue, they create a Safety Award process that celebrates progress. They make the celebration events frequent, the rewards modest – but they do it all the time. Leaders know the frequency of awards and the opportunity for celebration are as important, actually more important, than the annual lunch or dinner or whatever.
Did you notice one thing about all 12 Ways? Not one of them deals with lots of money, or more capital, or new policies or procedures. All do require beliefs and behaviors – and they are the most challenging, most high leverage efforts that can be made to improve an organization. It's always tempting to do a feel good seminar, or buy something, or take some action that shows a high level of commitment to the people.. But the truth is that the way to greater success is through a focused, day to day effort to improve the level of commitment of the people in an organization, and that takes hard work, leadership and the acceptance of change.
If you can see Ways that can help you organization or your work group or yourself in this article, take them and run with them – they are the basis for successful managers becoming successful leaders.
by: Andrew Cox
Diposting oleh
CAHAYA
pada
22.17
0
komentar
Label: Bisnis Solo, Memulai Usaha
The Secret to Becoming Rich
Napoleon Hill, the author of Think and Grow Rich, believes that a person does not have to be a genius to become rich. Any person can become wealthy if he thinks positively and has a deep desire to achieve his goal.
Positive Thinking: You must see your financial dreams and know that you will be able to attain them. You must already own them.
If you begin making up every rationalization under the sun why you can't succeed, pinch yourself. You have to discipline your body and mind to think positive thoughts. Teach yourself that those kind of thought patterns are unacceptable. You can obtain greatness, even if you are not the smartest, most talented, or best looking person in the world. Success is your if you'll just allow it to come into your life. Don't underestimate the power of your thoughts.
Burning Desire: Hill tells a true tale of a man named Edwin Barnes who desired to become Thomas Edison's partner. Most of us would have scoffed at him had we lived back then. Edwin Barnes was a nobody. Nevertheless, he had a deep desire, a life dream, and he was determined. He went to Thomas Edison and convinced him to hire him. He did not instantly achieve his dream, but he worked hard and ultimately became Thomas Edison's partner. This was a feat everyone thought was impossible.
Edwin Barnes followed these 7 steps to gain this great success:
- Choose a definite dream.
- Put all your energy into that dream.
- Be willing to do menial work at first.
- Visualize your dream.
- Form a strategy.
- Endure through the hard times.
- Eliminate any way to retreat.
Don't forget, to successful people, there is no such thing as "defeat." What looks like defeat is no more than a great opportunity. Start creating opportunities out of failures and being successful today!
by: Elise Fisher
Diposting oleh
CAHAYA
pada
22.00
0
komentar
Label: Bisnis Solo, Memulai Usaha
IFAMF XI Korsel, promosi Topeng Solo
Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) Kota Solo berencana membawa 200 topeng karya pengrajin asal Solo untuk dipamerkan dalam ajang International Folk, Art and Mask Festival (IFAMF) XI Perhelatan tersebut akan digelar di Kota Andong, Korea Selatan, 28 September-7 Oktober 2007 mendatang.
Kepala Disparsenibud Solo, Handartono, mengungkapkan baru-baru ini Solo memang dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam ajang bertaraf internasional tersebut. ”Ini merupakan sebuah kehormatan besar bagi Solo. Artinya, karya seni Solo sudah dikenal sampai ke Korea (Selatan). Panitia di Korsel secara langsung mengirimkan undangannya kepada Walikota Solo,” ungkap Handartono, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (26/7)Menurut Handartono, hal itu juga menjadi peluang yang sangat bagus bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk mempromosikan dan meningkatkan branding hasil-hasil kerajinan topeng pengrajin Solo, sekaligus mempromosikan Solo untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan festival sejenis tahun depan.
AntusiasKarena itulah, lanjutnya, pihaknya sangat antusias dan berbagai persiapan tengah dilakukan pihaknya untuk menghadapi event tersebut, termasuk menentukan jumlah dan jenis topeng yang akan dibawa dan dipasarkan di ajang tersebut serta yang tak kalah penting berapa orang yang akan diberangkatkan.Satu hal yang pasti, lanjut Handartono, jumlah orang yang akan menjadi delegasi dalam pameran tersebut maksimal 25 orang yang terdiri atas penari dan pengrajin yang akan mempresentasikan karya topeng tersebut. ”Namun siapa-siapa yang akan berangkat ke Korsel nanti belum dipastikan. Demikian pula dengan jenis-jenis topeng yang akan dipamerkan,” ujarnya.
Handartono memperkirakan jumlah topeng yang akan dipamerkan sekitar 200 topeng plus sejumlah topeng yang akan dijual. Mengenai anggaran, Handartono mengungkapkan Pemkot Solo hanya perlu menyediakan biaya untuk transportasi. Sedangkan untuk akomodasi selama di Korsel, ditanggung oleh panitia penyelenggara event tersebut.Handartono menambahkan salah satu nilai tambah dari acara tersebut adalah perkiraan jumlah pengunjungnya pada acara pembukaan yang mencapai 1 juta orang. Selain itu, acara itu juga akan disaksikan oleh duta besar dari 50 negara serta 30 walikota setempat.
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.53
0
komentar
Label: Bisnis Solo
Your Greatest Asset
Your greatest asset is your own customer list. These people have already purchased something from you in the past. If you've delivered as satisfactory product, they are very likely to buy from you again.
The easiest sale you'll ever make is to an already established customer of yours. They already trust you. They feel comfortable in dealing with you. You've delivered what you said you would so a certain degree of trust has already been established. Your customers are probably quite confident that you wouldn't sell them something that wasn't in their best interest.
The high road to increased profits always takes the route of established customers. There's always an expense associated with finding a new customer. Regardless of the marketing method used there's always an investment required in establishing a customer whether in terms of real dollars or human capital. Once you have a customer, any subsequent sale is made without the cost of locating that customer. The cost or finding a new customer is proportionally much higher than the cost of retaining an existing customer.
Keys To Success
- The secret of capitalizing on your customer base is to continually feed them with new products and services you know they'll want. This is no time to diversify into completely new areas. Everything that you make available to your customer list must be compatible with what made those people customers to begin with.
- Whatever subsequent products and services you offer must be related in some way. Think of your customers as belonging to a specific group. They're gardeners or small business owners or health enthusiasts. Whatever you offer must fit that product niche.
- Always be on the lookout for new things you think your customers would gladly pay for. And give customers first crack at any of these new products and services. If you can offer a discount, that's even better. By letting them in on new products and services, you're giving them priority customer status, an added value of doing business with your firm.
- Be careful not to overdo it. You don't want to annoy anyone, least of all your customers. Allow enough time and space between customer contacts. How much time you allow between mailings or calls depends on the nature of your business.
Examples
When a clothing store receives a shipment of new designs, they should first notify all previous customers who've purchased in the same price range. All the store has to do is contact these customers by phone or by mailing invitations to a special event where this new line is unveiled. Suggest to customers how additional new outfits can be created by mixing and matching and you've provided an extra service that will help retain customers.
This approach would seem natural for a wholesaler who relies on distributors or retailers to act as re-sellers. By showing your new merchandise and suggesting ways to move more of it, you're providing a valuable service while keeping in touch with your customers. A self-published author of book on camping tips, should come up with natural additions to his product line to sell to buyers of his book. Things like maps of parks, local facilities, lists of "must-see sites" or specialty camping equipment, could all be add-ons made available to the author's buyers.
One final note; in order to start making more sales and build your business empire – you must become an avid student of lead generation and marketing strategy – the high-payoff items necessary for you to magnetically attact new clients to skyrocket your profits.
by: Joe Heller
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.47
0
komentar
Label: Bisnis Solo
Festival Batik Nasional 2007
Festival Batik Nasional (FBN) 2007, ajang untuk mengangkat batik nusantara sebagai warisan budaya dunia, Sabtu (28/7) dibuka oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris.
Sedikitnya 300 peserta yang berasal dari kalangan pengusaha, kolektor, pelaku industri rumahan, pengrajin, seniman, akademisi, sejarawan, budayawan dan mahasiswa yang bergerak di sektor batik memastikan hadir dalam acara yang digelar selama dua hari di Pendhapi Gede dan Balaikota Solo itu.
Ketua panitia FBN 2007, Sasmiyarsi Sasmoyo dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) Kota Solo, Kamis (26/7), mengungkapkan melalui sejumlah acara yang digelar yaitu Seminar Batik, Kontes 1.000 Pembatik Anak-anak usia 5-12 tahun, Jelajah Batik, dan Pameran Batik diharapkan bisa terjadi regenerasi. ”Diharapkan bisa tumbuh kecintaan terhadap batik di kalangan generasi muda. Ini penting untuk mendukung tujuan membuat strategi kebudayaan pada upaya menjadikan batik sebagai warisan nusantara, lalu bersama pemerintah mengusulkan kepada UNESCO untuk mengakui batik nusantara sebagai warisan budaya dunia,” ungkap perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pariwisata dan Budaya Badan Pelestarian Pusaka Indonesia tersebut.
Sasmiyarsi mengatakan, hal itu harus dilakukan secepatnya, sebab diam-diam Malaysia juga sedang mengupayakan hal yang sama, mengusulkan karya batik yang barangkali mereka pelajari dari Jawa menjadi milik mereka. Menurut Sasmiyarsi, saat ini sudah ada sejumlah motif batik Indonesia yang sudah dipatenkan menjadi milik Malaysia. Salah satu contohnya, tambahnya, adalah motif batik Parangrusak, yang mereka patenkan dengan nama Parangroosak. Selain itu, masih banyak lagi motif batik Pekalongan yang mereka patenkan.
”Selama ini Indonesia sudah sering kecolongan tapi tidak bisa berbuat apa-apa,” jelas Sasmiyarsi. Karena itulah, lanjutnya, dalam FBN 2007 tersebut, panitia juga akan menghadirkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), untuk menyosialisasikan segala hal yang perlu diketahui termasuk cara-cara dan prosedur pendaftaran HAKI kepada kalangan seniman dan industri batik, khususnya industri rumahan.Tak hanya itu, melalui FBN 2007 tersebut, Sasmiyarsi mengungkapkan rencana panitia untuk membentuk Dewan Batik Nasional untuk mewadahi orang-orang yang bergerak di bidang batik, menentukan arah perkembangan batik dan mengusahakan perlindungan secara hukum terhadap karya-karya batik. Dewan ini akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pengusaha, seniman, cendekiawan, dan sebagainya.
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.44
0
komentar
Label: Bisnis Solo
Bazar buku Robbani
Pustaka Robbani Solo agen/distributor buku-buku Islam dan umum menggelar Semarak Bazar Buku Murah, 19-30 Juli 2007. Menurut Manajer Pustaka Robbani Bambang Satrio N SE, dalam siaran pers yang diterima Espos, Kamis (26/7), acara tersebut digelar untuk memenuhi keinginan konsumen untuk mendapatkan buku-buku berkualitas dengan harga murah.
“Selama event ini berlangsung, konsumen bisa mendapatkan buku dengan harga spesial mulai Rp 5.000-Rp 20.000 serta diskon hingga 50 persen. Selain itu, kami juga melayani delivery produk bagi konsumen untuk pembelian minimal Rp 100.000,” katanya.
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.40
0
komentar
Label: Bisnis Solo
Kusuma Sahid hadirkan Essentia Spa
Hotel Sahid Kusuma Solo menghadirkan fasilitas spa baru yang diresmikan 8 Juli 2007 lalu dengan mengambil nama Kusuma Essentia Gaya Spa. Menurut Public Relations Officer Hotel Sahid Kusuma Solo Anestasia Briliyanti dalam siaran persnya yang diterima Espos, Jumat (27/7), fasilitas spa tersebut buka setiap hari pukul 10.00 WIB-22.00 WIB.
“Layanan yang tersedia di sini sangat terjangkau, yakni mulai Rp 25.000 ++ sampai Rp 437.000 net. Para pelanggan bisa menikmati berbagai pilihan spa, seperti massage relax, body scrub, back treatment dan lainnya.Sedangkan paket yang ditawarkan antara lain, paket Spa Gaya yaitu paket massage, body scrub,dan mandi susu. Berbagai pilihan dapat memudahkan pengunjung untuk dapat memilih paket spa sesuai dengan kebutuhan. Letak spa yang dekat dengan kolam renang juga dapat memudahkan akses pengunjung untuk bersantai.
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.38
0
komentar
Label: Bisnis Solo
The Magic Move to Being in Business
Lots of entrepreneurs that I speak to spend a lot of time "being busy." They're attending meetings, answering emails and a ton of activity that fills up their schedule. They have great ideas in the middle of it all, but are so overwhelmed they fall into "productivity paralysis" and are just plain perplexed about how to really get to that next level. There's a magic move to being productive and profitable in business that no one is talking about.
Before we get to the "Magic Move," we have to first acknowledge that as an Entrepreneur you should always be striving to work on your business rather than just in your business. You open up the energy around this by setting up systems. This approach allows you to be set up for growth and actually implement all those fabulous ideas you have. For example, if you're an acupuncturist instead of only treating patients all day you can explore ways to treat and reach more people at once-leveraging your time and your income. Strong systems in your business operations will create that space. I have entrepreneurs I coach who either set up or strengthen their systems as a must. For the sake of this article, we accept that as a given. Now, step into the magic move-the one that has you in joy with everything you're doing, rather than just trying to catch your breath and stay one step ahead (or filing you your time with "stuff" because you secretly feel lost about what to do next).
Often, I've found that even when you have the tightest of systems, you can find yourself feeling like something is missing. Your energy is a bit blah and you don't feel jazzed to create. Even though the systems are crankin', you feel stuck. Just about every time I hear this from an entrepreneur, I know the magic move is missing; there isn't anywhere in the systems that allows for time to just be. Incorporating this move makes all the difference in the world and it's the one that is most resisted (including myself at times). Interesting, right?
Let's get clear about exactly what I mean by "time to just be." I'm not talking about time to watch TV or be with family and friends-although this is important and should be part of your systems, too. I'm talking about time to really connect to that part of yourself which is a direct connection to divine, inspired action. These are the ideas, solutions, and "how tos" that cannot be conceived of, created, or tapped into when you are busy "doing" and "going 24-7." And it's the powerful, magic move that no one in business is talking about. Frankly, I believe it's because they're scared to.
Traditional business doesn't operate from a place of stillness. The battle cry is, "if you're not in motion, you're losing money!" Meanwhile, money is being left on the table everywhere because folks are rushing by and too busy to see it. Even all the latest buzz about the Law of Attraction is filled with insistence to, "use this tool, this exercise, this strategy." Be sure to understand, these are very helpful, but the point of them is often lost; to bring us to that deep place of knowing that comes from being able to be.
Every time I've coached a client around this magic move more money has appeared. I have one client who just created $4,500 in a half day. The inspiration to pursue this means would never have appeared had she just still been going, going, going. It works.
Call To Action:
Start by scheduling some "be" time. Just take it and see what happens.
Write down anything that comes to you.
Let it go and then return to it a week later. Mark what that experience is like (you might be surprised what happened in the week between!).
by: Heather Dominick
Diposting oleh
CAHAYA
pada
21.35
0
komentar
Label: Magic Business
Modal Menjadi Pengusaha
Dua Modal Utama
Terdapat persoalan kehidupan seorang karyawan, Andi namanya, bekerja pada sebuah perusahaan swasta di sebuah kota, misal Solo, dia mengeluhkan tentang rutinanitas pekerjaan yang membosankan serta gaji yang pas-pasan. Di lain pihak ada seorang mahasiswa yang baru lulus dari perguruan tinggi yang masih menganggur sebut saja namanya Anton. Mereka berencana akan mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan yang membuat mereka bebas berekspresi demi kemajuan bersama. Si Anton mengajak Andi untuk mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan yang modal usahanya di angkat berdua (Patungan). Tetapi terkadang Andimerasa takut seperti kawannya yang lain. Awalnya sih ingin punya usaha sendiri tetapi karena bangkrut, akhirnya menjadi karyawan lagi, menulis surat lamaran lagi, menunggu panggilan lagi. Dengan asumsi adanya peningkatan gelombang PHK akibat kenaikan BBM dan lain-lain, mencari pekerjaan baru lagi bukan soal yang mudah kan, Pak . . . . ?
Saya yakin di dunia ini ada banyak orang yang menghadapi masalah antara kebosanan dan kebimbangan semacam itu, meski detail-detailnya berbeda. Kita sudah bosan dengan pekerjaan kita saat ini tetapi di sisi lain kita belum benar-benar punya kejelasan langkah (determination) yang utuh di kepala tentang pilihan yang baru. Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Antara penting dan utama
Penting manakah modal tangible dan modal intangible? Kalau pertanyaannya adalah penting mana, tentu harus dijawab keduanya penting. Berusaha butuh modal material – finansial seperti halnya juga butuh modal akal (intangible). Tetapi jika pertanyaannya adalah, manakah yang harus diutamakan lebih dulu, maka pengalaman sejumlah pengusaha dan kesimpulan pakar di bidang usaha, mengatakan bahwa modal intangible harus lebih dulu diutamakan.
Tidak saja Henri Ford yang mengakui ini. Pak Bob Sadino, Pak Cik, dan Bu Martha Tilar, rupanya juga kesimpulan yang sama. “Banyak sekali orang yang menerjemahkan modal dengan uang atau benda-benda. Sebetulnya dari pengalaman saya, modal intangible itu awal yang nantinya diikuti oleh modal tangible”, jelas Pak Bob (majalah Manajemen, April, 2003)
Apa yang dikatakan Pak Bob (Bob Sadino, Pengusaha) itu rupanya memiliki esensi yang sama dengan kesimpulan George Torok. (George Torok, The Yukon Spirit : Nurturing Entrepreneurs, www.torok.com). Torok yang banyak melakukan penelitian terhadap kehidupan para pengusaha menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang punya modal tangible bisa disebut pengusaha. Bisa saja mereka menjadi pengusaha dalam waktu seminggu sebulan atau beberapa bulan ke depan tetapi selebihnya mereka bukan lagi pengusaha. Menurut Torok, modal intangible yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha adalah:
- Memiliki dorongan batin yang kuat untuk maju (personal drive) --
MIMPI
- Memiliki fokus yang tajam tentang apa yang dilakukanya dan kemana dia
akan membawa usahanya (focus)
- Memiliki kemampuan yang kuat untuk berinovasi
(produk, sistem, cara, metode, service, dst)
- Memiliki sikap mental “Saya bisa” (The I can mental attitude) dalam menghadapi persoalan-persoalan yang kedatangannya seperti tamu tak diundang.
- Memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan (berdasarkan pengetahuan, pengalaman, skill, intuisi, dan akal sehatnya)
- Memiliki kemampuan untuk “tampil beda” atau memunculkan keunggulan-keunggulan (kreatif)
Mengapa harus lebih dulu diutamakan? Saya tidak tahu alasan spiritual-mistikal yang mengilhami para pengusaha itu berkesimpulan demikian. Tetapi secara logika, ada sedikitnya dua alasan yang bisa kita pahami:
Pertama, seandainya kita punya modal tangible yang bagus tetapi kita tidak memiliki modal intangible yang bagus, maka modal tangible kita bukan malah akan bertambah. Modal itu akan berkurang dan bahkan bukan tidak mungkin akan ludes. Contoh-contohnya sudah seabrek di sekeliling kita. Tetapi seandainya kita punya modal intangible yang bagus sementara kita tidak memiliki modal tangible yang berlimpah, ini masih bisa diatasi. Sudah banyak kita saksikan pengusaha yang mengawali usahanya dengan modal yang sedikit atau pas-pasan bahkan kurang (istilahnya modal dengkul), tetapi karena ulet, kreatif, tekun, dan punya jaringan yang luas, akhirnya usaha itu mengalami kemajuan yang menggembirakan.
Kedua, keahlian tidak bisa dibeli atau tidak bisa dipinjam dari orang lain. “You cannot buy the skill to be great”. Uang bisa dipinjam, gedung bisa disewa atau boleh numpang sementara, produk bisa ‘nge-sub’ tetapi keahlian menjalankan bisnis, tentu tak mengenal istil beli, pinjam, apalagi ngesub atau numpang. Kalau Anda tidak bisa atau tidak ahli, maka buktinya langsung nyata dalam bentuk antara lain: gagal, rugi, tidak efektif, tidak efisien, tidak untung, dan lain-lain.
Ada kebenaran umum (folk wisdom) yang terkadang lupa kita pikirkan secara masak. Kita sering mendengar ada orang mengatakan, “Orang ahli kan bisa dibeli. Apa susahnya kita merekrut sarjana ahli lalu kita gaji untuk menjalankan bisnis kemudian kita tinggal menerima untungnya saja …. “. Kebenaran umum seperti ini memang benar tetapi prakteknya tidak benar bagi semua orang. Bagi mereka yang sudah ahli dalam me-manage manusia, kebenaran umum ini benar. Tetapi bagi yang belum punya keahlian dalam hal “managing people”, seringkali kebenaran umum itu belum benar di lapangan. Belum benar di sini artinya rencana kita gagal karena kita tidak memiliki keahlian yang memadai dengan masalah yang kita hadapi.
Kesimpulannya, menerjuni usaha di bidang apapun memang butuh uang, butuh dana, butuh fasilitas, butuh materi. Modal tangible seperti ini wajib hukumnya. Tetapi, memiliki modal tangible yang memadai belum dapat menjamin kelangsungan usaha. Untuk poin yang terakhir ini lebih banyak ditentukan oleh modal intangible yang kita miliki. Modal intangible di sini adalah “kualitas SDM” kita yang sesuai dengan bidang usaha yang kita geluti. Modal yang terakhir inilah yang akan menentukan apakah kita akan menjadi pengusaha sebulan atau seumur hidup.
Memang benar bahwa yang diinginkan oleh semua orang adalah memiliki modal tangible yang berlimpah (punya cadangan uang cash berlipat, punya fasilitas kerja yang lengkap, dan punya kantor yang representatif) dan juga modal intangible yang bagus (punya kemampuan berbisnis yang handal, punya kemampuan mengolah produk yang bagus, punya kemampuan memasarkan produk yang jitu, punya kemampuan membina jaringan yang kokoh, dan lain-lain).Cuma saja, keadaan ideal itu sangat jarang terjadi.
Tak hanya itu, memiliki modal tangible yang bagus dan memiliki modal intangible yang bagus pula, biasanya terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab, atau sebagai sebuah hasil dari sebuah proses. Artinya, pengusaha yang memiliki keduanya adalah pengusaha yang sudah berhasil menjalankan usahanya, bukan orang yang baru memulai berusaha. Untuk orang yang baru memulai merintis usaha, problem umum yang dihadapi adalah problem yang muncul sebagai akibat adanya keterbatasan, antara lain: terbatas modalnya, terbatas SDM-nya, terbatas, materinya, terbatas fasilitasnya, terbatas dalam mengantisipasi perubahan, terbatas pelanggannya, dan lain-lain. Karena itulah, maka modal intangible jauh lebih perlu didahulukan.
STREET SMART
Ada dilema tersendiri yang harus dihadapi oleh calon pengusaha pemula. Kalau ia batalkan keinginannya untuk menjadi pengusaha karena takut resiko, takut pada berbagai kemungkinan buruk, tentu saja ia tidak akan pernah menjadi pengusaha atau tidak akan pernah paham seluk beluk memulai usaha. Tetapi, bila ia terus nekad untuk menjadi pengusaha dengan modal pas-pasan, tidak berarti ini akan ada jaminan berhasil. Gagal dalam arti “tembakan kita meleset” tentu ini biasa dalam usaha. Tetapi gagal dalam arti kehabisan peluru, kehilangan sumber penghasilan, menanggung hutang, kehilangan pekerjaan, tentu ini beda efeknya bagi kita.
Jadi, bagaimana berkelit dari dilema yang sulit seperti ini? Kalau dijawab dengan kata-kata, mungkin tidak akan habis kita menulisnya dengan tinta air laut. Ada sekian jawaban, ada sekian alternatif, dan ada sekian opsi. Sebagai tambahan dari jawaban yang sudah kita miliki, saya ingin mengingatkan satu istilah yang sangat populer di dunia usaha. Istilah itu adalah street smart. Menurut pengertian yang lazim dipahami, street smart artinya cerdas di lapangan. Gambaran aplikatifnya mungkin pernah dijelaskan oleh Pak Bob Sadino (Majalah Manajemen, April 2003):
“Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi. Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus dan mengatasi masalah.”
Street smart termasuk modal intangible yang luar biasa peranannya. Saya pernah membaca hasil survei yang menanyakan tentang sejauh mana relevansi antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan hari ini (ExecuNet: 2005). Hasilnya tercatat seperti berikut:
v 46 % menjawab relevansi itu sangat dekat.
v 39 % menjawab relevansi itu ada
v 15 % menjawab relevansi itu tidak ada sama sekali
v 84 % menjawab begini: "street smarts" is more important in business than an advanced degree.
Jadi, yang diperlukan dari kita adalah kecermatan, keberanian dan kesiapan. Kita perlu cermat agar terhindar dari resiko usaha yang bernama kegagalan dalam bentuk kehabisan peluru atau menanggung hutang yang berat untuk kita. Kalau bisa, maksimalnya resiko itu hanya berupa kegagalan dalam bentuk meleset sementara atau belum untung banyak. Kita perlu keberanian melawan ketakutan yang biasanya membisikkan teror: “bagaimana nanti kalau gagal”, “jangan-jangan nanti ….”, dan lain-lain. Selama ketakutan semacam itu belum bisa kita atasi, sebaiknya kita sembunyikan lebih dulu keinginan kita menjadi pengusaha. Kita juga perlu kesiapan mental untuk menumbuhkan bangkitnya kecerdasan yang bernama street smart.
http://www.e-psikologi.com/wirausaha
Diposting oleh
CAHAYA
pada
01.14
0
komentar
Label: Bisnis Solo, Memulai Usaha
