Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 29, 2007

Tembang & goyang cucakrawa bernilai jutaan rupiah

Burung cucakrawa belakangan ini memang makin dikenal. Harus diakui, makin tenarnya nama burung itu sedikit banyak dipengaruhi oleh ngehit-nya tembang Cucakrawa yang syairnya cukup menggelitik telinga. Saat ini, anak-anak hingga orang dewasa dengan mudahnya bisa mendendangkan lagu Cucakrawa sehingga jenis burung yang satu itu tidak lagi dianggap langka atau asing, sekalipun banyak yang belum pernah melihatnya secara langsung.


Mungkin, sama dengan lagunya yang bisa menghasilkan uang jutaan rupiah bagi penyanyinya, burung cucakrawa pun ternyata bisa memberi keuntungan bagi pemiliknya. Bahkan, jika dibisniskan, cucakrawa bisa jadi pabrik uang yang tak akan habisnya.Boleh dibilang, bisnis burung cucakrawa sangat prospektif pasar dan keuntungannya, baik dari segi penangkaran maupun jual beli burung berkicaunya.

Umumnya, orang memburu cucakrawa karena tergiur suara merdunya saat berkicau dan goyang ekornya yang panjang indah. Karena tergila-gila pada kicau dan ekor cucakrawa itulah orang berani mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk seekor piyikan (anak-anak burung) cucakrawa.

Belum lagi jika burung itu sudah pandai berkicau. Pastilah harganya melangit. Menurut beberapa pedagang, seekor cucakrawa yang bersuara merdu, bisa dihargai sampai belasan juta rupiah. ”Cucakrawa itu memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Piyikan yang baru menetas saja harganya sudah Rp 2.500.000. Kalau sudah berkicau yang bisa lebih dari Rp 10.000.000,” ujar Haryanto, pebisnis sekaligus penggemar burung kicauan asal Klaten.

Penangkar burung cucakrawa asal Sorobujan, Desa Jimbung, Kalikotes, Klaten ini mengatakan, menangkarkan burung cucakrawa merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Permintaan burung cucakrawa dari kalangan penggemar atau penghobi burung berkicau terus bertambah. Sayangnya, karena proses penangkarannya yang agak rumit, produksi burung cucakrawa selama ini masih sangat terbatas. ”Kalau hanya menjual cucakrawa sekarang ini masih mudah dan bernilai tinggi. Tapi, persoalannya menangkar cucakrawa itu lebih sulit dibanding burung kicau lain,” ujarnya.

Haryanto mengatakan, saat ini memang sudah banyak orang yang berusaha menangkarkan burung cucakrawa untuk kepentingan bisnis. Namun kenyataannya proses budidaya ini masih belum banyak yang memberi hasil yang memuaskan. ”Permintaan terus datang, tapi bagaimana lagi? Barang sering tak ada. Kalaupun ada yang mau menetas, itu pasti sudah dipesan,” papar Haryanto lagi.

Oleh karena itu, kata dia, penangkaran burung cucakrawa saat ini masih menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Selain dari sisi pasar masih luas, dari sisi keuntungan pun terhitung tinggi. Karena piyik yang baru menetas dari telur saja sudah dihargai Rp 2.500.000.

Senada dengan Fajri Muhammad, pecinta burung kicauan yang tinggal di Karangasem, Laweyan, Solo. Menurut dia, ada beberapa jenis burung yang jadi sasaran penghobi untuk dipelihara. Selain jalak suren, murai dan kacer kembang, burung cucakrawa saat ini boleh dibilang sedang naik daun. Banyak penghobi yang memburu cucakrawa. Bahkan, saat ini, kata Fajri, banyak juga cucakrawa yang dikonteskan dalam lomba kicau burung. ”Kicauan cucakrawa sangat bagus. Banyak orang terkesima mendengarkan kicauanya,” tuturnya.

Karena itulah dia yakin, setidaknya sampai empat atau lima tahun mendatang, usaha penangkaran burung cucakrawa masih akan memberi keuntungan. Yang jadi masalah, sambung Fajri, memang upaya penangkarannya yang sulit. Kendala utama budidaya burung ini adalah perubahan cuaca serta gangguan lingkungan yang sering tidak mendukung. ”Karena itu saya tidak melakukan penangkaran sendiri karena tidak mau kena risiko itu. Saya memilih jadi konsumen pemelihara untuk kontes saja,” ujarnya.


Kendala


Sementara penangkar burung cucakrawa yang juga pemilik Solo Bird Farm, Mulyono, mengatakan kendala budidaya cucakrawa selama ini bukan pada aspek pemasaran. Permintaan pasar hingga saat ini masih bagus. Pembeli cucakrawa, baik piyikan maupun yang sudah dewasa, sangat banyak. ”Tiap hari saya itu ditelepon orang yang pesan piyikan cucakrawa, tapi barangnya tak ada,” ungkap dia di kediamannya Banyuanyar, Sidomulyo RT 01 RW 05 Banjarsari, Solo.

Budidaya atau penangkaran burung cucakrawa lebih sulit dibanding burung kicauan lainnya. Cucakrawa, kata dia, banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti cuaca dan lingkungan. ”Kegagalan orang menangkar cucakrawa saat ini perubahan cuaca. Dari dingin ke panas secara mendadak atau sebaliknya. Cucakrawa ini memang termasuk burung yang mudah stres terhadap perubahan cuaca dan suara bising dan gaduh, baik itu karena orang maupun hewan lain,” kata dia.

Karena kendala dalam hal penangkaran itulah, menurut Mulyono, saat ini orang sulit mencari cucakrawa. Beberapa penangkar cucakrawa mengaku kehabisan stok piyik atau anakan karena sering gagal saat menangkarkannya. Baik Haryanto maupun Mulyono mengatakan bahwa hampir setiap hari ditelepon orang yang menanyakan dagangan piyik cucakrawa.

Namun karena produk tidak ada, dengan terpaksa mereka menolak memenuhi permintaan tersebut. ”Kita tidak punya stok lagi. Piyikan habis. Indukan cucakrawa yang ada beberapa ini belum bisa bertelur lagi,” papar Haryanto lagi.Biaya pemeliharan dan penangkaran burung cucakrawa relatif murah.

Pemeliharaan per hari hanya membutuhkan biaya Rp 1.500, sementara daya jualnya minimal Rp 2.500.000 untuk piyikan. Sedangkan untuk indukan tiap telur usia sekitar delapan bulan bisa mencapai Rp 8.000.000. Bahkan ada pula yang memiliki harga jual Rp 25.000.000. Jadi bisa untung spektakuler.

Cuma, perlu jiwa penyayang dan bertangan dingin dalam memelihara binatang. Sementara tentang persaingan bisnis penangkaran burung ini bisa dikatakan belum ada. Banyak penangkar burung cucakrawa bermunculan di berbagai kota, namun kenyataan produksi masih terbatas sehingga harga jual pun masih bagus. ”Perbedaan harga antar peternak masih tipis. Hanya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 saja. Itu tergantung tawar menawarnya,” kata Mulyono.

Opak, Mudah bikinnya, mudah jualnya

Memasarkan opak tidaklah terlalu sulit. Cukup dibawa ke pasar maupun dititipkan ke toko swalayan, pembeli akan dating dengan sendirinya. Bahan untuk membuat opak juga tidak sulit, hanya dengan singkong, diramu dengan bumbu bawang putih, garam, penyedap rasa, daun kucai dan cabai, jika menginginkan rasa pedas.

Resepnya mudah ditiru, namun untuk membuat khas memang ada rahasianya tersendiri. Untuk bisa mengikuti jejak bisnis opak ini, bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, cara produksi; dan kedua, cara pemasaran dengan pengemasan produk. Tentang cara memproduksi, Muhtar, perajin opak dari Wonosobo mengatakan, itu mudah dilakukan. Singkong tinggal direbus hingga masak.
Setelah itu didinginkan dan ditumbuk menjadi adonan kemudian diberi bumbu-bumbu bawang, garam dan penyedap serta daun kucai. Kemudian adonan singkong berbumbu itu dibentuk sesuai dengan selera dan diiris tipis-tipis. Begitu diirisi, kemudian dikeringkan atau dijemur di panas matahari. Proses pengeringan hanya membutuhkan waktu sehari saja bila panas mahatari menyengat , namun jika tak ada panas bisa memakan waktu dua hari. ”Kita selama ini masih manual dengan menjemur di terik matahari,” ujar Muhtar.
Sementara untuk bentuknya bisa disesuaikan dengan selera. Jika ini dibikin bulat besar bisa, bentuk lidah bisa atau apa saja.Untuk modal, kata dia, sangat tergantung pada kemampuan. Namun, untuk bisa mendapatkan hasil yang cukup untuk hidup, minimal harus memproduksi 100 kg singkong. Karena kapasitas produksi itu mampu menghasilkan opak 70 kg kering. Sehingga jika harga opak mentah Rp 3.000 per kilogram, keuntungan bisa diraup Rp 30.000.
Cara kedua, yaitu dengan mengemas dalam bentuk makanan siap saji. Menurut Ny Ningsih, cara ini lebih mudah dan praktis. Karena cukup dengan memberi opak mentah yang siap goreng di tempat produksinya. Modalnya adalah alat penggoreng serta kemasan plastik berlebel. ”Kalau kita sudah punya alat penggorengan, cukup dengan Rp 500.000 saja, uang sudah bisa berputar.”Dengan uang sebesar itu, kita bisa mendapatkan opak mentah kering sebanyak 100 kg dengan estimasi harga Rp 3.000/kg.
Sedangkan untuk biaya plastik dan pengemasan lainnya itu hanya Rp 200.000. ”Keuntungan kita bisa 100%. Apalagi kalau kita kemasi kecil-kecil, bisa lebih.” Demikian, langkah untuk mengikuti jejak bisnis opak ini. Selamat mencoba.

Opak, gurihnya menguntungkan

Bagi orang Jawa, singkong atau ketela pohon sudah tak beda dengan nasi. Banyak orang Jawa yang menjadikan singkong sebagai salah satu alternatif makanan pokok. Tak heran jika kemudian singkong ini banyak direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi makanan yang enak dan menarik. Bukan hanya digoreng, direbus atau dibikin kolak gula jawa.


Tangan-tangan kreatif orang Jawa juga menjadikan singkong sebagai snack lezat yang digemari. Bahkan, tak jarang singkong ini juga bisa jadi sumber penghasilan. Seperti yang dilakukan petani singkong di Wonosobo, misalnya. Di daerah pegunungan ini, singkong diolah jadi produk kerupuk. Orang Wonosobo menyebutnya sebagai opak. Jika Anda pernah menyantap opak wonosobo ini, mungkin Anda akan setuju dengan pendapat bahwa rasa opak karya petani wonosobo ini begitu gurih dan lezat. Karena kelezatannya itu pula opak wonosobo saat ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Hampir seluruh supermarket atau swalayan besar di kota menjajakan kerupuk khas Wonosobo. Muhtar, 28, pengrajin opak asal Wonosobo mengatakan, bisnis opak memang prospektif dan menguntungkan. Saat ini, permintaan untuk toko-toko swalayan yang tersebar di seluruh Jawa ini terus saja meningkat.”Semenjak dibawa oleh bakul dari Magelang, opak wonosobo mampu menembus pasar ke luar kota, khususnya swalayan dan supermarket.

Permintaan opak per bulannya mencapai puluhan ton. Namun kemampuan produksinya sangat terbatas karena kendala modal,” ujar produsen opak yang tiap harinya mampu menghasilkan produk sekitar 200 kg ketika ditemui Espos di Desa Jolontoro, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo beberapa waktu lalu.Muhtar mengaku optimistis, peluang bisnis opak ke depan sangat bagus. Karena selama lima tahun belakangnya, permintaan terus bertambah. Bahkan produsen opak juga terus bertambah. ”Begitu orang merasakan opak wonosobo, biasanya langsung ketagihan. Banyak yang merasa cocok dengan rasanya. Ya, mungkin karena makan opak ini tidak ada efek sampingnya, sebagaimana emping yang tidak bagus disantap oleh mereka yang menderita asam urat,” tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mbah Kromo. Pengrajin opak yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari produksi opak ini mengatakan bisnis opak makin lama makin bagus. Saat ini, lanjut dia, pemasaran opak sudah makin luas ke seluruh kota Jawa. Bahkan ada pula yang sudah membawa ke Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. ”Kemarin, itu ada orang yang sudah mulai kirim opak ke Sulawesi dan Kalimantan. Meski baru tiga kali kirim dengan kapasitas 300 kg, namun makin lama juga makin bertambah jika sudah memasyarakat,” ujarnya.Komoditi eksporBerdasarkan pengalaman tersebut, ia memprediksikan opak akan terus saja diterima pasar Indonesia.

Bahkan jika ada orang yang membawa ke luar negeri pun kata Mbah Kromo bisa jadi menjadi komoditi ekspor. Selain rasanya yang cocok untuk lidah Indonesia, harga opak juga tidak mahal.Sementara Ny Ningsih, bakul opak Kotagede, Yogyakarta, mengatakan selama dua tahun mengemasi krupuk opak omsetnya sudah mencapai Rp 10 juta per bulan. Dari jumlah tersebut keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 4 juta. ”Saya bukan produsen, tapi hanya bakul yang memasarkan dalam kemasan siap saji,” ujarnya.Apabila dilihat dari grafik penjualan yang terus saja naik, menurut Ny Ningsih, prospek bisnisnya bagus karena kenyataan banyak orang begitu mengenal dan merasakan krupuk singkong ini, terus saja minta dikirimi.

Cerahnya prospek bisnis opak itu juga ditandai dengan sedikitnya kompetitor bakul opak dalam bentuk kemasan jadi siap konsumsi. Selama ini di Yogyakarta, kata Ny Ningsih, baru dirinya saja yang memasok opak kemasan ke toko swalayan maupun kios oleh-oleh. ”Di Yogyakarta itu saya belum melihat pesaing. Entah kalau di Solo atau Klaten, sudah ada atau belum.” Mengapa tidak melakukan ekspansi ke luar kota? Ny Ningsing, dengan produksi kemasan sejumlah sekitar 500 kwintal opak per hari itu, tenaganya sudah tidak mencukupi lagi. Perluasan pasar hanya bisa dilakukan jika menambah tenaga kerja. ”Tapi, bagi saya segitu saja cukup,” katanya.

Seiring dengan perjalanan waktu, minat masyarakat terhadap makanan khas ini semakin tinggi dan pembuatnya pun makin banyak. Variasi dalam bentuk pun juga makin banyak. Di pasaran bentuk opak sangat banyak ada yang bundar, tebal, besar, bentuk emping dan lidah.Tak hanya pemasaran yang mudah dan menghasilkan keuntungan yang lumayan saja, produksi opak juga mudah. Bahan baku mudah didapatkan karena hanya singkong, dan bumbu bawang putih, garam, penyedap rasa dan daun kucai.

Sehingga untuk wilayah Surakarta bisa dikembangkan produksi tersebut, apalagi seperti Wonogiri, Boyolali, Klaten itu merupakan penghasil singkong. ”Untuk daun kucai mungkin bisa dibeli di Wonosobo atau daerah lain,” ujar Mbah Kromo lagi.Daripada singkong produksi Wonogiri itu dijual dalam kondisi mentah, menurutnya, lebih baik diolah menjadi produk yang bisa menghasilkan uang yang lebih banyak.

Bisnis nata de coco, dari limbah kelapa ke uang

Membicarakan bisnis kelapa memang bisa tak habis-habisnya. Maklum, seluruh bagian dari tumbuhan satu ini memang bisa ”disulap” menjadi uang. Dengan sedikit kreativitas, keuntungan pun akan mengalir ke kantong.

Kalau dihitung, sangat banyak produk dari tumbuhan kelapa yang bisa dibisniskan. Coba saja renungkan, bagian mana dari pohon kelapa yang tidak dimanfaatkan? Mulai dari akar, batang, bunga, buah, dan daunnya bisa mendatangkan rupiah. Bahkan air kelapa yang merupakan limbah cair dari pedagang kelapa parut di pasar tradisional pun ternyata bisa memberi manfaat, bahkan jadi sumber penghasilan.
Karena itulah sangat bisa dipahami kalau kemudian tunas kelapa digunakan sebagai lambing dari Pramuka, gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan menggunakan lambing tunas kelapa itu, Pramuka ingin menjadi gerakan yang seluruh kegiatannya memberi manfaat, bukan hanya bagi internal organisasi, tetapi juga masyarakat dan bangsa Indonesia.
Dari sekian banyak bagian pohon kelapa yang memberi manfaat bagi manusia itu, mungkin hanya air kelapa sajalah yang jarang diketahui orang. Padahal setelah diolah sedemikian rupa, air kelapa itu bisa diolah menjadi santapan ringan berupa sari kelapa atau yang selama ini dikenal dengan sebutan nata de coco.
Limbah terbuang berupa air kelapa tersebut dapat diolah menjadi makanan yang menyegarkan, bebas lemak, kaya serat, dan bermanfaat untuk mencegah obesitas. Di luar itu, olahan air kelapa itu pun bisa menjadi lahan bisnis yang memberikan keuntungan menggiurkan, bahkan sampai 300%. Ashari, warga Pondongan, Jagalan, Kotagede, Yogyakarta adalah salah seorang yang sukses dalam bisnis nata de coco. Ashari menggeluti bisnis limbah kelapa sejak lima tahun lalu, namun kini produksinya sudah mencapai 1.500 kg per pekan.
”Untuk produksi sendiri, mencapai 1.500 kg/minggu. Di luar itu, kami juga menampung produk dari beberapa teman untuk disetor ke Jakarta. Sepekan sekali minimal 7.000 kg,” ujar Ashari kepada Espos beberapa waktu lalu.Diungkapkannya, hingga saat ini peluang pasar nata de coco masih terhitung bagus. Bahkan kata dia lagi, hingga lima tahun ke depan usaha ini diprediksi akan terus cerah. Tanda-tanda kejenuhan pasar belum terlihat karena angka produksi belum sebanding dengan dengan permintaan pasar. Bahkan boleh dibilang, angka produksi itu jauh berada di bawah permintaan pasar.
Sebenarnya penampung di Jakarta dan Bandung minta kiriman barang sampai 1 ton per hari. Namun sulitnya mendapatkan produk nata de coco yang berkualitas bagus, permintaan itu belum bisa kami penuhi. Ya, untuk memenuhinya gampang-gampang sulit,” jelas Ashari waktu lalu di kediamannya.Kendati sudah lima tahunan menjalani bisnia memproduksi makanan menyegarkan itu, namun Ashari mengakui hingga kini masih belum bisa memastikan hasil produksinya. Hal ini tak lain karena kualitas produk sering tak sesuai harapan.
Kadang-kadang, 100 % hasil produksi nata de coco berkualitas baik, namun tak jarang pula gagal total. Penyebabnya sangat bermacam-macam.
”Kadang pusing juga emmikirkan itu. Secara teori, membuat nata de coco memang mudah, tapi nyatanya seringkali hasilnya tak sesuai dengan teori. Jadi berhasil atau gagal dari produksi lebih banyak ditentukan oleh nasib. Bukan oleh besar kecilnya pabrik.” Luasnya peluang pasar nata de coco ini juga dibenarkan oleh Kirmanto, produsen nata de coco dari Bantul. Lelaki ini mengaku, selama ini hanya memproduksi nata de coco dengan mengandalkan proses sederhana.Hal ini pula yang menurut Kirmanto, dilakukan oleh produsen lain.
Produksi secara pabrikan dengan skala besar, kata dia, masih jarang dilakukan sehingga jumlah produksi belum juga mampu mencukupi tingginya permintaan pasar. Ia mengatakan sekitar tahun 1997 di Jalan Wonosari, Yogyakarta pernah berdiri pabrik nata de coco. Pada awalnya, produksi dari pabrik itu mencapai dua ton per hari. Tapi sayangnya, pabrik di Jalan Wonosari tersebut tak mampu bertahan lama dan akhirnya bangkrut. Begitu pula di Bandung, pertama mampu produksi sehari tiga ton, tapi umurnya tak lebih dari setahun. ”Membuat nata ini memang tak mudah. Harus sabar, karena kegagalan itu sering tak bisa diprediksi. Begitu pula keberhasilannya. Jadi wajar kalau banyak orang yang memproduksi nata, tiba-tiba gulung tikar. Padahal permintaan Jakarta masih luas,” ujarnya.
Lalu mengapa Ashari dan Kirmanto bisa bertahan? Kepada Espos, kedua pengusaha itu mengatakan mampu bertahan lantaran sabar menghadapi setiap kegagalan. Mereka tidak menampik jika selama kurang lebih lima tahun ini berkali-kali gagal panen nata, bahkan pernah menderita kerugian mencapai jutaan. ”Namanya usaha pasti ada untung ada ruginya. Kebetulan kita ditolong dengan sistem pemasaran ritel tiap hari,” ujar Ashari.Yang dimaksud dengan pemasaran ritel (eceran), kata Ashari adalah, pemasaran nata tidak hanya memenuhi permintaan buyer luar kota saja, namun tiap hari rajin keliling ke warung-warung dan pasar tradisional menjual nata de coco dalam kemasan kecil. ”Harga eceran dengan irisan kecil-kecil itu dua kali lipat. Dan ternyata kita dapat untung. Dari situlah kita bisa menutup kegagalan panen besar untuk order Jakarta dan Bandung,” tutur Ashari.
Oleh karena itu, lanjut dia, jika memang ada orang yang ingin mengkuti jejak usaha membuat nata de coco, maka yang paling penting adalah kesabaran dan mampu menciptakan pasar eceran di warung atau pasar tiap harinya. Tantangan terberat dari usaha ini bukan pada pemasaran dalam jumlah besar, tapi produksinya. ”Kalau produksi nata itu bisa dipastikan hasilnya, saya sudah kaya. Pembeli Jakarta pasti mau membayar dengan sistem cash. Bahkan kalau mau bayar di muka, tapi saya menolak karena belum tentu bisa hasilnya.”
Dari segi keuntungan, produksi sari buah kelapa lumayan. Minimal margin keuntungan yang bisa didapat adalah 30% karena biaya pokok produksi per kilo hanya sekitar Rp 400. Sedangkan harga per kilogram nata de coco untuk partai besar mencapai Rp 700/kg. Untuk eceran di pasaran Rp 1.000/kg. ”Kita pasok ecer ke warung atau pasar Rp 1.000. Kemudian sampai ke konsumen Rp 1.200,” ujar Kirmanto.Di hari-hari besar, seperti pada hari Lebaran atau Natal, permintaan nata de coco biasanya melonjak tiga kali lipat dari kebutuhan rutin hari biasa sehingga harga jual di pasar pun sering naik hingga 50% dari harga biasa.

Bikin nata de coco gampang-gampang sulit

Proses pembuatan nata de coco, menurut pengusaha Kirmanto, sebenarnya tidak terlalu rumit dan tidak butuh teknologi tinggi. Cukup dengan menyiapkan nampan-nampan plastik sebagai media fermentasi. Air kelapa yang jadi bahan dasar pembuatan sari kelapa itu dimasukkan ke dalam panci kemudian direbus selama selih kurang 2 jam.

Selanjutnya, jelas Kirmanto, dalam setiap 100 lt air kelapa ditambahkan 300 gram gula putih, 300 gram zet A (sejenis bahan kimia berbentuk serbuk yang berperan dalam proses pembentukan lembaran-lembaran nata de coco) dan 1 sendok makan sitrun. Setelah mendidih, air kelapa dituangkan dalam nampan-nampan plastik, dan dibiarkan hingga dingin.Setelah dingin, dalam setiap nampan (ukuran 1 lt) ditambahkan sekitar 150 cc bibit nata dan ditutup rapat dengan kertas koran.
Lalu nampan-nampan tadi diikat dengan karet-karet pengikat untuk diproses fermentasi selama 7 hari. Setelah 6 sampai 7 hari, akan terlihat lembaran-lembaran putih dengan tinggi sekitar 1 cm hingga 1 1/2 cm. Lembaran putih itulah yang dikenal sebagai nata de coco.Khusus untuk bibit nata de coco, selain dapat dibeli di toko-toko kimia seharga Rp 15.000/botol ukuran 1 lt, juga dapat diproduksi sendiri.
Untuk pembuatannya, dari 25 lt air kelapa menghasilkan 60 botol bibit yang dapat digunakan untuk keperluan selama 6 bulan.Di pasaran, harga jual nata de coco rata-rata Rp 1.000 per lembar. ”Setiap lembar nata beratnya sekitar 1 kg,” kata Kirmanto. Berarti, jika berhasil membuat 1,2 ton nata/minggu maka akan menghasilkan Rp1,2 juta atau Rp 4,8 juta/bulan. Kirmanto menjelaskan, dia sudah tidak kesulitan memasarkan produk karena para pengecer akan datang ke rumah Kirmanto untuk membeli lembaran-lembaran nata tadi.
Kemudian, mereka akan memotong-motong sendiri lembaran nata tersebut dengan ukuran 1 1/2 X 1 1/2 cm. Potongan-potongan itulah yang kemudian dijual ke konsumen atau diolah kembali menjadi manisan, minuman ringan, campuran es teler atau dikemas dalam gelas plastik dan dijual Rp 500/gelas.
Kirmanto sendiri mengaku, beberapa waktu lalu sempat mengusahakan nata olahan. Namun dengan semakin tingginya permintaan dia mengaku tidak memiliki waktu untuk mengolah nata tersebut. ”Sekarang saya lebih berkonsentrasi pada pembuatan nata saja. Biar olahannya menjadi rezeki bagi pengecer,” ujarnya.Diakui Kirmanto, membuat nata de coco memang gampang-gampang sulit. Karena faktor tertentu, bisa saja proses fermentasi air kelapa itu gagal. Namun seiring makin seringnya mencoba membuat, kegagalan itu bisa dikurangi.
Selain dari wilayah Kotagede, Kirmanto juga mengaku mendapatkan order dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. ”Bulan lalu saya mendapat order 7 ton nata/minggu dari Bandung tetapi saya tidak menyanggupi sebab tidak ada modal dan tenaga kerja,” ujar Kirmanto lagi. Melihat keberhasilan Kirmanto itu, mengapa Anda tidak mulai membuka usaha, membuat nata de coco?

Bisnis suvenir & kartu undangan tak pernah mati

Musim kemarau sudah tiba dan bagi sebagian masyarakat dianggap waktu paling baik untuk melangsungkan hajat termasuk pernikahan. Buktinya, jika hajatan diselenggarakan pada musim hujan maka pawang hujan adalah salah satu yang dipanggil agar hujan tak mengguyur sewaktu hajat diselenggarakan.

Pada musim-musim nikah seperti ini, pelaku usaha yang kebanjiran rezeki adalah kartu undangan dan suvenir pernikahan। Karena itu bisnis ini dianggap bisnis yang tak ada matinya। Anggapan yang digunakan adalah nyaris semua orang dipastikan mengalami dan menginginkan pernikahan. Pesatnya perkembangan zaman, untuk urusan kabar pernikahan dan mengundang relasi guna berbagi kebahagiaan tak hanya cukup dari mulut ke mulut ataupun mengundang secara pribadi.
Namun menggunakan sebuah kartu dan disediakan suvenir bagi tamu undangan sebagai kenang-kenangan. Pemilik usaha kartu undangan di wilayah Kalijambe Sragen Icay Ofset, Cahyo Wibowo mengatakan usaha jenis ini sangat menggiurkan. Sedang pemilik toko suvenir Sulis Agency di Jl Adisucito Solo, Sudarti menambahkan keuntungan dan prospektif usaha itu. Usaha tersebut di atas menurut mereka tidak dijalankan dengan modal besar. Ibaratnya cukup mengandalkan kreativitas dan kesanggupan mencari pasar.
Soal keuntungan, mereka menjawab minimal mampu mengembalikan modal. Jujur mereka mengatakan tak hanya bisa kembali modal namun sering mendapat lebih. ”Jadi separuh harga pasti dapat. Ini untuk suvenir buatan sendiri misalnya rangkaian toples berisi dua buah dengan hiasan bordir dan bunga saya jual Rp 50.000. Padahal untuk modal tak ada separuh atau Rp 25.000. Tinggal mengalikan berapa buah yang berhasil dijual,” ungkap Darti. Hal yang sama dikatakan Cahyo.
Yang jelas modal kembali sehingga jika diibaratkan kartu undangan seharga Rp 600, modal yang dibutuhkan hanya Rp 300. Soal modal sekali lagi dikatakan hampir tak bermodal sebab pada sebagian wilayah usaha kartu undangan dan suvenir pernikahan masih merupakan usaha sambilan. Jika benar-benar mau profesional tentunya bisa diandalkan asalkan dengan niat kuat. ”Selama ini masih sambilan. Seperti saya bekerja di sebuah perusahaan di Solo sebagai pekerjaan utama dan kartu undangan ini hanya sambilan,” papar Cahyo. Bisnis ini dianggap usaha sampingan karena usaha tersebut bersifat musiman.
Musim ramai pesanan tak setiap saat yakni ketika musim kawin antara Bulan Syawal hingga Besar atau bulan lain selain Syura termasuk kemarau saat ini. Menjalani bisnis di atas, lanjut mereka, tak ada ruginya. Sebab musim kerja bagi mereka bisa dibilang hanya ketika ada order. Karena itulah, promosi atau usaha jemput bola merupakan upaya yang sangat dibutuhkan demi kelancaran rezeki. Cahyo membeberkan usaha pelayanan kartu undangannya hanya bermodalkan seperangkat komputer termasuk printer dan kertas. Itu saja.
Untuk kertas bisa dibeli di toko baik dalam bentuk potongan maupun plano yakni jenis kertas dalam ukuran besar. Untuk urusan hemat, Cahyo menyarankan pilih plano karena satu yard atau satu lembar bisa untuk bikin sepuluh lembar kartu. Selain itu masih ada sisa yang bisa dimanfaatkan sebagai kertas label suvenir. Dengan demikian tak ada yang bersisa.
Dari segi harga, kertas potongan dan plano selisih sekitar Rp 20. Kertas potongan biasanya berisi 100 lembar per pak dengan harga Rp 140 per lembar dan bisa digunakan untuk 100 lembar undangan juga. Untuk membuat kartu undangan juga tak butuh waktu lama. Dua jam pun jadi kalau sudah punya desain tapi kalau belum punya desain atau harus membuat desain baru tentunya butuh waktu lebih.
Perlu diingat, file yang dibutuhkan untuk desain kartu cukup besar karena itu komputer harus dilengkapi CD writer karena disket saja tak akan cukup menampung besarnya file. Untuk jenis usaha sampingan semacam ini, biasanya tak dicetak sendiri namun diserahkan ke percetakan. Desain pilihan pemesan setelahnya diprint dalam kertas biasa kemudian dibawa ke percetakan setelah sebelumnya difotokopi dengan kertas elefax. ”Kertas elefax ini kertas khusus untuk percetakan seperti plat. Modal untuk ini Rp 2.500,” lanjut Cahyo. Dua jenisPerhitungan pengeluaran selanjutnya adalah ganti cetak. Biasanya dihargai per muka Rp 10. Sehingga jika bolak-balik dihitung dua muka atau Rp 20 atau tergantung harga dari perusahaan cetak. Selanjutnya adalah pertimbangan dengan cara sablon atau print.
Kartu dengan cetak sablon memang mahal Rp 50 karena hasil lebih sempurna dibandingkan cetak print. Tinta yang digunakan kadang berlepotan hingga hasil takrapi termasuk pemasangan platyang kurang sempurna.
Jenis undangan yang ditawarkan biasanya ada dua yakni jenis murah terutama untuk kalangan kurang mampu Rp 300 per buah. Jenis itu per lembar hanya memerlukan 1/4 kertas folio. Jika menginginkan ukuran di atasnya tentu dikalikan dua atau 1/2 polio dengan nominal Rp 600. Bentuk lainnya adalah untuk kalangan berada atau jenis bagus dan rumit. Untuk jenis ini dihargai mulai Rp 900. Dengan demikian, harga kartu tergantung jenis kertas yang digunakan, tinta timbul atu tidak, kerumitan desain. Jadi contoh perhitungan modal untuk 100 kartu yang dibutuhkan Cahyo tak termasuk seperangkat komputer adalah;





  • 10plano @ Rp 120=Rp 12।000


  • Fotokopi elefax Rp 2.500


  • Cetak per muka (semisal kartu dengan dua lipatan berarti ada empat muka : 4xRp 50 =Rp 200 per lembar =Rp 20.000. Itu jika dengan menggunakan desain sendiri. Jika menggunakan atau mencontoh desain dari percetakan ditambah Rp 2.500-3.500. Taruhlah angka maksimal maka Rp 20.000+3.500+12.000+2.500 =Rp 38.000.



Jadi jika modal yang dikeluarkan Cahyo sebanyak itu maka uang yang akan dikantongi senilai Rp 76.000. Tentunya untuk modal tergantung dengan jenis kartu Undangan.

Sabtu, Juli 28, 2007

Kunci suksesnya, kreativitas

Sekalipun modal yang dibutuhkan tidak besar namun persoalan yang jauh lebih penting adalah soal kreativitas। Berikut hal-hal yang menurut mereka patut diperhatikan jika ingin sukses :


  1. Kreatif menciptakan desain baru। Jika tidak hal itu sama saja menjualkan produk orang lain. kreatif sama dengan memenangkan tarif jual tanpa karena tak ada saingan di tempat lain. Perlu diingat jangan terlalu besar jika mengambil keuntungan karena bisa bikin kapok pemesan. Sewajarnya sajalah.
  2. Promosi atau pemasaran adalah hal yang paling penting। Karena itu jangan malu-malu untuk jemput bola atau mencoba berbagai strategi pemasaran। Misalnya menitipkan plamflet di toko-toko relasi atau yang lainnya. Perlu juga mendatangi ke rumah calon punya hajat ini tentunya bagi usahawan baru atau memiliki kedekatan emosi.
  3. Jangan lupa pula untuk memberikan tips bisa dengan bentuk apapun kepada relasi yang berhasil memberikan kita pemesan. Ini penting selain sebagai bentuk terimakasih juga mempererat tali silaturahmi. Semakin baik kita menjalin relasi semakin baik pula peluang keuntungan yang akan kita dapat.
  4. Jangan ragu melakukan pendekatan terhadap perusahaan cetak ataupun toko kertas dengan menjadi langganan. Dengan demikian, harga yang diberikan dihitung diskon dan berbeda dengan konsumen biasa.
  5. Pelayanan dan kualitas adalah hal utama. Konsumen akan lebih pelayanan dan kualitas baik sekalipun harga yang dikenakan jauh lebih tinggi.
  6. Berikan bentuk bonus-bonus sebagai penarik konsumen untuk memesan ke tampat kita. Misalnya pemesanan 1.000 kartu mendapatkan satu buah kaus, payung dan lain sebagainya. Bonus yang dapat diberikan lainnya sebagai bentuk pelayanan adalah rela mengetikkan list nama-nama tamu undangan di dalam kartu. Jika terlampau banyak bisa diberikan bonus gratis kertas tempat nama untuk ditempel di muka undangan.
  7. Kalau bisa mendirikan tempat usaha di lokasi yang belum banyak saingannya. Perhatian masyarakat akan berbeda jika usaha kita adalah pioner. Jika sudah banyak yang membuka usaha sama, mainlan di kualitas dan pelayanan.
  8. Sebagai usahawan awal, jangan terlalu memikirkan keuntungan. Yang utama adalah menjadi relasi dan membuat pasar.
  9. Jangan malu untuk mengikuti perkembangan zaman atau model yang sedang tren. Tak mengikuti tren sama dengan enggan kecipratan rezeki.
  10. Kepada konsumen jika memesan kartu dengan gambar foto diri sebaiknya dengan negatif film untuk hasil sempurna.
  11. Kepada konsumen agar lebih hemat, pandai-pandailah memilih jenis kartu undangan. Jika untuk kalangan biasa pilihlah jenis kartu biasa. Namun jika yang diundang adalah kalangan atas, pilihlah yang sesuai agar reputasi keluarga tak menjadi perbincangan.